Menyeruput Secangkir Kopi
M. Galim Umabaihi
Salam...!
Sekedar berbagi rasa.
Sore itu sekitar pukul 17.30 WIT, di tirai Rumah Susun Polres Halut sambil menemani senja yang perlahan ditelan gelap sembari tanganku kerap mengangkat cangkir kopi yang belum juga habis, perlahan aku menyeruput. Tak sengaja pikiranku menerawang mengingat kembali masah kecilku, kala itu di usia antara 9-10 tahun. Sebagai anak sulung yang memiliki empat adik perempuan, sering aku banyak kemauan dibandingkan dengan mereka berempat. Karena bapak seorang motoris dan tukang rumah, maka ia sering ke kota saat ada orang yang memintanya untuk membuat rumah, atau membawa penumpang dan memuat hasil panen kelapa, cengke serta coklat milik warga desa setempat untuk dijual dan berbelanja. Kesempatan itu aku sering memanfaatkan untuk ikut dengannya, namun ketika bertepatan dengan waktu sekolah aku sering juga tak dibolehkan ikut.
Kota kecil yang hanya ditempuh dari desa kami sekitar satu jam dengan motor penyebrangan tersebut, meski kala itu sanana baru dimekarkan menjadi ibukota Kabupaten Kepulauan Sula, tapi bagi kami cukup untuk memenuhi keinginan menikmati nuansa kota dengan pertokoan-pertokoan kecil, pasar, dan mobil microlet yang mondar-mandir memungut penumpang. Ya, itu pun cukup bagi kami sebagai anak kampung yang sekedar menikmati hiruk pikuk suasana kota. Karena sebatas itu kota yang kami pahami. Bahkan jarang naik mobil sehingga merindu, karena di kampung tak ada satu pun mobil yang terlihat, yang ada sekedar gerobak yang digunakan warga untuk mengangkut hasil panen. Sehingga keinginan ke kota itu tak ubah masyarakat bagian timur indonesia yang merindu ke jakarta untuk menikmati hiruk pikuk kotanya dengan beragam fasilitasnya, menikmati liburan berbelanja di mall, wisata kuliner, ngopi di cafe-cafe, tempat wisata yang eksotis hingga menyaksikan nuansa politik ibukota negara itu. Begitulah sekiranya kami yang menggaris sepotong hidup di Desa Kou, salah satu dari sekian desa yang berada di bagian timur pulau mangoli itu.
Kopi belum juga habis, senja yang tadi masih nampak, sepotong perlahan ditelan habis gelap, hiruk pikuk kicau burung mulai meramaikan suasana sekitar, mempertandakan malam mulai tiba. Deru suara adjan menyapa perlahan lalu hilang. Pikiranku masih tetap mengembara, saat libur sekolah permintaanku mengikuti ayah ke kota selalu dipenuhi, kemudian diikutsertakan, barangkali itu cara ia menunjukan kasih sayangnya. Meski begitu permintaan itu tak berani aku sampaikan langsung padanya, karena aku sangat takut, entah apa alasannya. Padahal sekalipun tak pernah ia memarahi dan memukulku, bahkan setiap permintaanku dipenuhinya. Aku juga bingung dengan diriku yang merasa tegang di hadapan lelaki yang merupakan ayahku sendiri. Karena takut setiap permintaan itu, aku sampaikan melalui ibu bahwa, aku ingin ikut dengan ayah, atau aku mau beli ini atau itu. Seperti itulah caraku meminta sesuatu, kemudian permintaan itu ibu teruskan ke ayah, barulah dipenuhi. Suatu kali melalui cerita baru aku tahu bahwa bukan hanya aku yang takut pada ayah, tetapi sebagian besar pemuda dan anak-anak di desa itu pula takut padanya, bukan karena kejahatannya tapi sosok pendiam (Jarang bercerita) dan jarang tersenyum membuat orang takut, sering merasa tegang kala memulai bercerita dengan ia.
Bahkan suatu kali juga ia meminta aku belajar mengendarai sepeda, kalau sudah tahu ia menjanjikan bakal membeli sepeda buatku. Tanpa menunggu lama, sehari itu langsung aku berlatih menggunakan sepeda milik temanku hingga bisa mengendarai. "Dasar tak tahu sabar," tak lagi aku pikirkan sudahkah ayah memiliki uang atau belum untuk belikan sepeda, langsung aku menagi hutang yang dijanjikan itu. Tapi seperti biasanya melalui ibu hutang itu aku alamatkan, lalu disampaikan pada ayah, namun sehari saja ia menunda, aku ngotot dan menjerit minta untuk dilunasi utangnya. Saking sayangnya ia padaku, besoknya permintaan itu pun dipenuhi, mengajakku ke kota kecil itu dan membeli satu sepeda untukku. Akhirnya aku pun pulang dengan sepeda baruku yang kala itu masih jarang dimiliki oleh teman-teman sebaya. Tak hanya itu, setiap permintaan jajanan, permainan anak-anak, hingga pakaian baru selalu dipenuhi. Begitulah aku diperlakukan seperti anak yang dimanja. Barangkali kala itu aku adalah anak yang berdosa, sebab setiap permintaanku tanpa kupikirkan dari mana kedua orang tuaku mendapat uang untuk memenuhi setiap permintaan itu, tapi sudalah mungkin begitulah usiaku kala itu belum cukup dipikirkan sampai pada tingkat itu.
Gelap perlahan merayap, bintang dan bulan sedikit mencuri gelap lalu sembunyikan pada terangnya, lampu yang kerap berada pada setiap sudut Kota Tobelo turut mengambil bagian menyembuyikan gelapnya, lalu serentak terang menampar lamunanku tak ubah sementara mimpi dalam tidur lalu serentak dibangunkan. Tanganku kembali mencari cangkir kemudian hendak melebur ke pahit manis kopi pada hitamnya dan sadar dalam lamunan, aku sudah harus belajar mandiri. Sosok itu kini tak lagi tiada, sebab tengah kembali dipanggil oleh yang kuasa sejak Juli 2016 kemarin, lagipula aku pada 14 tahun lalu yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kini sudah pada usia 24 tahun, dan tengah menyelesaikan studi S1 pada jurusan Ilmu Komunikasi UMMU sejak 2014 lalu, tentu keinginan tak lagi harus aku minta, setiap kebutuhan harus sendiri kuupayakan untuk penuhi, apa pun caranya. Bahkan permintaan yang biasanya dulu aku sampaikan, kini telah berubah dengan menerima, kemudian memenuhi permintaan dari empat adik perempuanku yang masih menempuh pendidikan di tingkat perguruan tinggi dan SMA.
Aku mulai kembali menyeruput terakhir sisah kopiku, lalu sampailah rasa kenikmatan kopi itu membawaku, barangkali rasa hidup serupa dengan kopi yang berkombinasi pahit dan manis, yang prosesnya berdurasi siang berganti malam, susah berganti senang, pasang berganti surut, habis gelap terbitlah terang dan seterusnya. Sebab itu, dalam hidup nyaris tak kutemukan kesuksesan menghianati proses kerja keras.
Tobelo, 02 Februari 2017

Comments
Post a Comment