Kemalaman Membaca Namamu

Entah pada halaman keberapa, dirimu yang tampa kabar ini kutemui. Selalu saja puisiku gagal membaca namamu.
Puisi bukanlah harga yang pantas untuk menukar setia. terlalu murah, sekadar kueja namamu dengan akronim puisi-puisiku yang dangkal.
Kamu adalah kitab yang belum selesai kubaca. Serupa manuskrip yang memuat kemalaman. Aku semakin jadi malam ketika membacamu. Hening.
Ternate, 7 Juli 2016

Comments

Popular Posts