Serenade dari Solo

Air menggenangi wajah saya, disela hujan duka kiriman dari solo.
Mendengarnya saya jadi terbayang. Dua bulan lalu, sempat sesaat menukar kabar baik dari amboina. Suara paru itu, dengan bahasa sanana yang fasih, lembut bertanya; "Ak nana in kabar ganoa  pel ik? (1). Abaker kabar idad wartawan pel te?" (2).
Kini disela hujan bulan Juli, desau angin kencang menerbangkan kabar duka dari solo.
"innalillahi wainnailaihi rajiun".
Lalu dimata anaknya, saya menyaksikan surga dan duka saling berpaut. Serupa kelahiran, kematian juga dirayakan dengan tangisan.
Rasanya tidak ada lagi yang lebih puitis, selain perayaan dengan menangisinya. Air mata menetes jadi iman dan layar.
Adalah maut selalu berjodoh dengan hidup.
Selamat jalan. Doa-doa menyertai, terbang menyapa tujuh penjuru. Semoga lapang dan khusnul khatimah.
Ternate, 18 Juli 2016
Ket;
(1). Anak saya gimana kabarnya
(2). Katanya dia sudah jadi wartawan.

Comments

Popular Posts