Aku dan Sepi saling mencemaskan
Sepi dan dirimu sering kali berjumpa di pojok cafe dalam alunan musik yang bertalu-talu. Sebotol bir dan keangkuhan fantasi yang mencengangkan. Begitulah dirimu dan sepi saling mengartikulasi februari yang malang. Dan saya salalu menjadi alamat ketika jalan pulang dirundung galau. Ya... alamat palsu dari sebenarnya alamat.
Februari yang malang, dirimu dan sepi selalu bertemu dalam prasangka-prasangka yang cemas. Saya adalah kecemasan dari kopi yang kau seruput subuh tadi. Dan selalu begitu, dalam remangnya malam, musik bartalu-talu terdengar klise "aku dan sepi saling mencemaskan".
Kota Tua, Jakarta 4 Februari 2016

Comments
Post a Comment