Kepada Kekasih dan Tanya

Anggap saja bukan surat, tapi diriku yang datang berbicara, memintamu menyeduh kopi merapi. Cinta hanya sesederhana itu.  Temani aku ngobrol tentang anak kita yang bernama “puisi” sambil menertawainya. Sambutlah aku dengan hangat tubuhmu, dekaplah, dan kau akan temukan mimpiku yang buat Tuhan jatuh cinta. Setelah kau tahu segala ihwal tentang diriku, aku akan ajari kamu cara menertawai hidup.
Karena aku percaya. Begitu mudahnya perasaan datang dan pergi tanpa permisi. Ajaran aku ini, suatu saat nanti akan kau mengerti. Bila perasaan pergi kamu bisa menerimanya dengan tertawa.
Sebab air mata hanya lelucun dari kitab omong kosong.
Puncak Bogor, 27 Februari 2016

Comments

Popular Posts